Posting cerpen by: ricarir
Total cerpen di baca: 490
Total kata dlm cerpen: 1754
Tanggal cerpen diinput: Fri, 21 May 2010 Jam cerpen diinput: 12:16 PM

Malaikat Kecil Bersayap PelangiAku menelusuri pantai pulau Moru yang bisu. Mencari kepingan masa lalu yang sempat tertinggal di tempat ini. tempat ini mengingatkanku pada tatapan Arimbi. tatapan yang dalam sedalam laut Pasifik yang menjadi surga laut NTT yang menawarkan keindahan yang tidak kalah menakjubkan dari Bali, Cook Island, bahkan Hawaii. nyanyian sunyi anak-anak yang baru kembali dari laut setelah seharian bergumul dengan dengan badai dan ombak Pasifik yang kejam. kulirik wajah-wajah polos itu satu persatu. bocah-bocah malang yang dipaksa oleh keadaan untuk menanggalkan semua kanak-kanak dan pendidikan mereka demi membantu kehidupan keluarga.Riak-riak angin menerbangkan anak-anak rambutku yang tergerai kusam terbakar sinar matahari. ayahku pasti akan sangat menyesalkan keputusanku ini. tapi apa yang bisa kulakukan. aku tak bisa menentang garis takdir yang terlanjur kupilih. sudah terlambat dan aku menikmati pilihan hidupku ini. bagaimanapun juga kau harus mulai belajar untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini meninabobokanku dengan kemewahan Jakarta dengan mengandalkan fasilitas dari Ayah. mungkin inilah tilas balik kehidupanku. dan aku harus buktikan pada Ayah kalau keputusanku ini bisa memberikan sedikit rasa bangga pada Ayah untuk menebus rasa bersalahku.bukan kepalang kekecewaan yang diperlihatkan Ayah saat aku memutuskan keluar dari Fakultas Kedokteran yang selama ini dibangga-banggakannya dariku. aku hanya tidak ingin hidup di bawah tekanan dan bayang-bayang besar nama Ayah yang jugas seorang dokter. aku tidak ingin didikte. karena aku adalah manusia independen yang harus mencari jalan hidupku sendiri. tanpa ada tendensi. dan pilihanku jatuh pada dunia jurnalistik. dunia yang tidak statis dan tidak monoton, menurutku. kamu tidak hanya akan berada di dalam ruangan serba putih dengan bau obat yang menyengat dan hiruk-pikuk serta pekikan kesedihan, airmata, dan kematian. Entahlah, aku benci rumah sakit. bukan karena kau tidak peka dengan penderitaan sesama. aku hanya takut teringat dengan ibu mama yang meninggal di tempat itu. Meski aku tahu ini pukulan berat buat Ayah yang menginginkan aku menjadi penerus dari pekerjaan mulianya itu.dan keputusan itu pula yang membawaku berada di tengah-tengah deburan ombak Pulau Moru. daerah di Timur Indonesia yang seringkali tidak terjamah tangan-tangan baik pemerintah. tempat ini seperti mutiara yang terpendam di bawah lumpur. jarang ada yang meliriknya. Rekan-rekanku sesama jurnalis hanya melongo keherananan saat aku melontarkan keinginanku meliput penderita busung lapar di daerah itu saat rapat direksi kemarin.tapi aku rindu Arimbi. gadis kecil di pulau itu yang yang memaksa batinku kembali menelusuri pedalaman NTT meski dengan medan yang sangat sulit. Hanya ada aku dan Dinov yang ikut. kameramen berwajah innocent yang mungkin lebih cocok jadi coverboy majalah remaja yang tidak harus berlari kesana-kemari mengejar berita dengan resiko yang sewaktu-waktu datang mengintai. ku pikir semua orang akan sepakat kalau profesi kami memang spesial. dunia abu-abu yang memberikanmu pilihan untuk melilih warnamu sendiri. kebenaran seperti apa yang ingin kamu kabarkan pada dunia.Arimbi. gadis kecil yang kutemui di pantai ini beberapa tahun yang lalu.Gadis kecil yang menginspirasiku untuk menanggalkan kemewahan yang ditawarkan Kota Jakarta dengan segala kemewahan sekaligus kekejamannya. Saat aku menatapnya ada rahasia yang ingin kusingkap dari balik bola matanya itu. Aku tersihir dengan tingkah polosnya yang harus dipenjarakan oleh takdir dan keadaan. Kamu mungkin akan tertawa mendengarku. Hanya seorang gadis kecil yang tidak senormal dan tidak sesempurna orang lainnya yang berhasil meluluhkan gadis keras kepala sepertiku. Bukan tokoh hebat yang berhasil mengubah dunia seperti Gandhi, Bill Gates, atau Rose Luxemburg. Dia terlahir dengan penyakit down syndrom. Penyakit bawaan yang disebabkan oleh kelainan kromosom yang membuat fisiknya terlihat aneh dan mentalnya terganggu. Hal yang membuatku tidak pernah berhenti bersyukur atas nikmat kesempurnaan Tuhan yang dititipkan-Nya untukku. Tapi kenapa semua orang harus mencibir keadaannya? Memangnya dia yang berharap ditakdirkan terlahir seperti itu.Arimbi hanya menatapku bingung saat aku membawanya pulang ke rumah itu. Sesungging senyum ia tampakkan dari gigi-giginya yang keropos. Pertemuan kami secara tidak sengaja tiga tahun yang lalu saat aku liburan keluarga dan tersesat dari keramaian itulah yang tidak bisa kulupakan. Kami menikmati suara ombak dan bermain di pantai seharian. Menunggu matahari terbenam dan bergelantung di atas keindahan pantai Pulau Moru. Inilah untuk pertama kalinya anak itu keluar dari rumah sendirian. tapi ia hanya anak kecil yang ingin melihat keindahan dunia luar yang selama ini hanya ada dalam benaknya. Ia minggat dari rumah. dan aku hanya bisa menangis saat dia airmata anak itu bercucuran setelah kena pukul dari ibunya. Aku mengantarnya sampai pagar rumahnya yang tergolong besar di tempat ini. sangat mudah menemukan rumah mewah di perkampungan nelayan terpencil seperti ini. karena sebagian besar penduduknya hanya membuat rumah panggung sederhana yang beratapkan rumbia. Gadis kecil itu hanya menggeleng saat aku menunjukkannya jalan pulang. Aku mengantarnya sampai pagar, ketika ku lihat seorang ibu muda ang berwajah oriental tergopoh-gopoh berlari dan menatapnya dengan marah dan tatapan menghakimi. Dia menarik tangan Arimbi dengan kasar dan memukul tubuh tak berdaya itu. Mungkin ibu itu tak memperhatikan kedatanganku. Dia mulai mengambil sapu dan memukuli Arimbi. Ada kesedihan teramat dalam yang menyesakkan dadaku. Ingin rasanya aku menghambur masuk dan menghentikkan perbuatan tidak manusiawi itu.Akhirnya aku memberanikan diri masuk. Gurat-gurat kekhawatiran tergambar jelas di wajah ibu muda itu. Terlihat ia tidak menginginkan kehadiranku di tempat itu. Aku membuka percakapan untuk mencairkan kebisuan kami petang itu. "maaf bu. kenalkan nama saya Elis. Saya dari Jakarta. Kalau boleh tahu kenapa mbak memukul anak ini padahal dia hanya bermain di luar rumah? Dia sudah besar,Mbak. Saya rasa dia tidak kan tersesat. Oh iya, saya yang menemani Arimbi bermain di pantai. Jadi mbak kalau mau marah, marah sama saya aja. Arimbi nggak salah." "siapa kamu berani ikut campur urusan saya. Saya ibunya dan saya punya hak untuk menentukan kemana dan dengan siapa anak saya bermain. Apalagi kamu lihat sendiri keadaan dia. Kamu pikir saya akan tinggal diam melihat anak saya diolok-olok dan dihina oleh orang-orang sekampung. Kalau kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu keluar sekarang."amarah ibu itu memuncak dan memaksaku menyeret langkahku dari tempat itu. Sejak hari itu aku kehilangan jejak Arimbi. Aku tidak pernah lagi mengusik kehidupannya. Dan aku sangat merasa bersalah dengan kebodohanku yang tidak bisa membebaskan Arimbi dari kungkungan rumah yang memenjarakannya. Dan aku ingin kembali. Melihat senyum dan tatapan matanya yang sedalam Laut Moru.Aku berlari menelusuri perkampungan nelayan itu ditemani dengan gurauan Dinov yang tidak henti-hentinya bercerita. Tapi Dinov tahu apa misi khusus yang kubawa ketempat ini. Sambil menyelam minum air, katanya. Kami memang dua pribadi yang saling mengagumi. Aku kagum dengan cara berpikirnya yang menurutku sangat revolusioner dan di sisi lain dia memuji ketetapan hatiku untuk mencari jalan hidup yang kuyakini bisa membahagiakanku. Kami menelusuri perkampungan kecil itu di bawah langit pagi yang sangat tenang. Hanya ada debur ombak dan beberapa nelayan yang sedang menjemur ikan dan rumput laut. Kami melakukan wawancara dan mendata penderita busung lapar di desa ini. Beberapa kali kami juga menanyai terntang bantuan pemerintah yang masuk untuk mengatasi masalah ini. Dan hasilnya mencengangkan. Kami memperoleh jawaban yang seragam. Mereka jaran gsekali tersentuk program pemerintah untuk sekedar memberikan jaminan sosial atau subsidi untuk membantu peruntungan mereka sebagai nelayan. Hanya kekecewaan yang kami dapati saat mereka menuturkan bahwa di desa mereka jarang ada bantuan dari pemerintah dan mereka harus berada di bawah tekanan para tengkulak China yang membeli hasil tangkapan mereka. Setiap kali pulang melaut, hasil tangkapan mereka akan disetorkan ke tengkulak China, kakek Arimbi yang kemudian ditukar dengan bahan makanan yang harganya dua kali lipat lebih mahal. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini karena hanya satu-satunya toko di Desa ini yang menjual kebutuhan pokok untuk nelayan. Kalaupun ada, mereka harus ke kota yang letaknya sangat jauh. Lalu mereka bisa apa. Mereka tidak bisa mengambil inisiatif untuk mandiri dengan pendidikan yang bahkan SD pun tidak selesai.Aku tercengang tidak percaya dengan berita yang aku dengar. Ratusan jarum-jarum kecil seakan menusuk-nusuk kepalaku. Aku linglung dan hanya bisa menangis dalam hati saat aku mendengar berita menyedihkan itu. Arimbi meninggal setahun yang lalu. Dan yang paling tragis adalah penyebab kematiannya. Dia bunuh diri dengan membakar tubuhnya setelah menyiramnya dengan minyak tanah. Warga desa yang kutemui itu menuturkan panjang lebar tentang kematian Arimbi yang tragis itu.Setelah kepulanganku ke Jakarta tiga tahu yang lalu, Arimbi masih selalu mendapat perlakuan kasar dari ibunya. Dan tak ada yang bisa membawa anak itu keluar dari kemalangan. Aku benar-benar shock. Di tempat ini aku hanya menemui kesia-siaan. Niat baikku untuk menolong anak malang itu keluar dari kehidupannya yang penuh kungkungan akhirnya pupus sudah. Arimbi, gadis malang yang lahir dengan Down syndrom yang dideritanya akhirnya berhasil mengakhiri masa-masanya yang sulit di dalam rumah. Selama 7 tahun keluarga ibunya menyekap ia dalam kamar karena tidak ingin merasa terhina punya keluarga yang cacat. Kakek Arimbi yang keturunan Tionghoa adalah sosok yang sangat dihormati di kampung nelayan itu. Ia tidak ingin kehadiran Arimbi merusak kehormatan itu. Mereka menyekapnya karena Arimbi lahir abnormal dan cacat mental. Ayahnya tidak diketahui siapa yang membuat ibunya sering melampiaskan kemarahannya pada anak itu. Mungkin sekarang mereka sudah tertawa bahagia dengan kematian Arimbi.Aku masih ingat percakapanku dengan Dinov di atas kapal laut yang membawa kami ke tempat in seminggu yang lalu. "Kita bukan patung, Nov. Kita nggak bisa membiarkan anak malang itu terpenjara di dalam rumah hanya karena dia lahir tidak senormal anak lainnya. Dia butuh kebebasan. Dunia harus tahu kalau ini tidak adil. Ini diskriminasi. Lalu, kita hanya bisa berdiam mematung menyaksikan tubuhnya lebam karena dipukuli. Padahal dia tidak salah kan, Nov. Dia hanya terlahir seperti itu. Dan karena orang tuanya tidak ingin diketahui punya anak cacat, lalu mereka menyekapnya dalam kamar dan mengisolasinya dari dunia luar. Tidak memberinya kesempatan menikmati masa bermain dan menuntut. Padahal dia punya hak yang sama dengan semua orang. Ini jelas tidak adil." Kemarahanku membuncah saat aku menuturkan lontaran kata-kata itu di sela-sela obrolan kami di atas dek kapal ditemani buaian angin Laut Pasifik yang tenang. " Tapi persoalannya tidak sesederhana yang kamu pikirkan, Lis. Aku tahu kamu memang mencintai anak-anak dan kamu akan melakukan apa saja untuk membuat mereka bahagia. Tapi pendekatan yang kita lakukan harus diubah. Akan sangat sulit berhadapan dengan orang tuanya yang menganggap keputusan mereka mutlak benar. Aku akan bantu kamu, Okey".Lalu langit cahaya Moru redup di atas kepalaku. Aku kalah. Arimbi menang. Aku tertawa di antara derai airmata hangat yang mengucur dari balik wajahku. Sepasang lengan itu menarikku. Melindungiku dalam pelukannya di bawah senja dan matahari tenggelam. Aku sesenggukan dalam pelukan Dinov tanpa bisa berkata-kata. Bulan sabit menggelantung di ujung sana. Indah dan bisu. Seperti kebisuan yang kami habiskan di tempat ini. Biarkan aku mengisahkan cerita sedih ini pada dunia. Dunia harus tahu, kamu sedih dan kesepian, Arimbi. Izinkan aku menuturkannya pada dunia, Arimbi agar tidak ada lagi anak lain yang bernasib malang sepertimu.
Diposkan oleh ricarir world smile

0 komentar:

Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates.
Distributed by Deluxe Templates